Perjalanan musik Indra Lesmana tumbuh dari lingkungan yang sejak kecil dipenuhi suara dan aktivitas para musisi. Rumah tempat ia dibesarkan menjadi ruang yang hampir tidak pernah lepas dari musik, tempat para musisi muda berlatih dan berdiskusi. Dari lingkungan tersebut, pendengarannya, persepsi, dan kepekaan musikal Indra terbentuk secara alami hingga pada usia sembilan tahun ia sudah mampu memainkan musik dengan mengandalkan apa yang ia dengar.
Melalui Steinway Family Story, Indra Lesmana membagikan refleksinya mengenai perjalanan musikalnya, pentingnya pendidikan dan disiplin, perkembangan industri musik di era digital, hingga tantangan dan peluang yang hadir bersama kecerdasan buatan (AI).
ABOUT THE ARTIST
Indra Lesmana mulai tampil di hadapan publik sejak usia sepuluh tahun. Pada 1976, ia tampil di Bandung dan kemudian tampil bersama sang ayah di Taman Ismail Marzuki. Seiring perkembangan kemampuannya, Indra kemudian mulai mendapatkan pendidikan piano klasik dan belajar bersama sejumlah pengajar musik.
Pada 1979, Indra bersama keluarganya pindah ke Australia setelah memperoleh beasiswa penuh dari pemerintah Australia untuk belajar di New South Wales State Conservatorium of Music, yang kini dikenal sebagai Sydney Conservatorium of Music. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, ia melanjutkan studi Jazz Studies dan meraih Diploma.
Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk Indra sebagai musisi yang tidak hanya mengandalkan kepekaan musikal, tetapi juga memahami pentingnya pendidikan, disiplin, dan ilmu dalam bermusik.
MUSIK SEBAGAI BAHASA
Bagi Indra, hubungan dengan musik pada awalnya terbentuk melalui proses mendengar, menirukan, dan kemudian memainkan. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai proses yang menyerupai cara manusia mempelajari bahasa ibu—bunyi hadir lebih dahulu sebelum simbol dan teori.
Pendekatan alami tersebut membuatnya peka terhadap nada, ritme, dan dinamika suara. Namun, ketika memasuki pendidikan formal di konservatori, ia menemukan sisi lain dari proses bermusik.
Indra menyadari bahwa bakat tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk berkembang. Lingkungan pendidikan dan teman-teman di konservatori membentuk kedisiplinannya dalam berlatih serta mendorongnya untuk mempelajari teori dan ilmu musik yang sebelumnya tidak terlalu ia perhatikan.
Menurutnya, musik bukan hanya seni, tetapi juga memiliki unsur sains. Fisika getaran suara, struktur matematika dalam ritme, hingga teori musik menjadi bagian yang saling melengkapi dengan ekspresi dan keindahan artistik.
BAKAT DAN DISIPLIN
Indra melihat bakat sebagai sebuah titik awal, tetapi bukan jaminan keberhasilan jangka panjang. Bakat dapat membantu seseorang berkembang lebih cepat pada tahap awal, tetapi keterampilan, konsistensi latihan, dan kerja keras tetap menjadi faktor penting dalam membangun kemahiran.
Baginya, musisi dengan bakat alami dan musisi dengan latar belakang akademis memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi keduanya tidak harus saling bertentangan.
Bakat memberikan kepekaan, intuisi, dan kreativitas, sementara ilmu membantu seorang musisi memahami struktur, teknik, teori, serta disiplin yang dibutuhkan untuk berkembang secara profesional. Keduanya pada akhirnya membutuhkan jam terbang dan latihan rutin agar kemampuan musikal semakin matang.
MUSIK DI ERA DIGITAL
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara musik diciptakan, diproduksi, didistribusikan, dan dinikmati. Menurut Indra, musisi saat ini perlu beradaptasi dengan perkembangan tersebut tanpa kehilangan keunikan ekspresi manusia.
Teknologi memungkinkan proses produksi dilakukan secara lebih mandiri melalui home recording, sementara platform musik digital dan media sosial membuka peluang bagi musisi untuk menjangkau pendengar di berbagai belahan dunia.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan. Persaingan di ruang digital semakin besar, perhatian pendengar menjadi lebih singkat, sementara persoalan royalti, pembajakan, dan perlindungan hak cipta masih menjadi perhatian penting bagi para musisi.
AI: BERKAH SEKALIGUS MALAPETAKA
Bagi Indra, kecerdasan buatan dalam musik dapat menjadi berkah sekaligus malapetaka, tergantung bagaimana teknologi tersebut digunakan.
AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi dan membuka ruang eksplorasi kreatif. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa tantangan terhadap keaslian karya, hak cipta, dan mata pencaharian musisi.
Karena itu, Indra menilai diperlukan regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk perlindungan terhadap hak cipta dan tata kelola royalti digital. Menurutnya, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap karya intelektual para seniman.
THE FUTURE OF MUSIC EDUCATION
Indra melihat masa depan musik dan pendidikan musik akan semakin mengarah pada integrasi antara kreativitas manusia dan teknologi.
Ia melihat beberapa perkembangan utama, termasuk produksi berbasis AI, pembelajaran hibrida yang menggabungkan metode tatap muka dan daring, serta pengalaman audio imersif.
Di tengah perubahan tersebut, musisi perlu menguasai perangkat digital dan platform distribusi daring, sementara pendidikan musik perlu tetap menempatkan kreativitas manusia sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
A MESSAGE TO YOUNG MUSICIANS
Bagi generasi muda yang ingin berkembang sebagai musisi, Indra menekankan pentingnya dedikasi dan disiplin. Menurutnya, perjalanan menjadi musisi klasik yang sukses bukanlah sesuatu yang mudah dan membutuhkan komitmen yang besar.
Salah satu pesan yang ia tekankan adalah untuk “selalu lapar ilmu.”
Ia mendorong para musisi muda untuk terus mencari hal-hal yang belum mereka miliki, memperluas wawasan, dan tidak berhenti belajar. Selain berlatih, ia juga mengajak mereka untuk banyak mendengar, menghadiri konser, mengikuti seminar, dan aktif berada di lingkungan musik.
Bagi Indra, berada di dalam komunitas musik memberikan pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh hanya melalui proses belajar di ruang latihan.
STEINWAY & SONS
Sebagai seorang musisi, Indra melihat piano Steinway & Sons bukan hanya sebagai instrumen dengan tone dan action yang baik, tetapi sebagai piano yang memiliki “nyawa”.
Baginya, ketika seorang pianis duduk dan memainkan Steinway, terjadi komunikasi antara musisi dan instrumen melalui getaran senar yang dapat dirasakan hingga ke ujung jari.
Steinway memungkinkan seorang pianis menyampaikan berbagai karakter dan emosi—mulai dari kelembutan hingga ekspresi yang kuat—dengan respons yang menurutnya mampu memahami kebutuhan seorang pianis.
Bagi Indra, kualitas tersebut menjadikan Steinway sebagai salah satu piano yang paling mampu merespons ekspresi musikal seorang pemain.
Stay connected with House of Piano to discover more concerts, artist performances, and inspiring musical experiences.
📲 WhatsApp: 0878-0021-8800
📍 Instagram: @houseofpiano


